Tafsir Al-Isra Ayat 1 - Penjelasan Lengkap Isra Mi'raj
Peristiwa Isra’ dan Mi’raj merupakan salah satu mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW. Artikel ini menyajikan Tafsir QS Al-Isra’ Ayat 1 dengan mengompilasi penjelasan dari berbagai mufasir klasik maupun kontemporer untuk memberikan pemahaman yang komprehensif.
Teks dan Terjemah QS Al-Isra’ Ayat 1
سُبْحَـٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًۭا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَـٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَـٰتِنَآ ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Terjemah:
Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Asbabun Nuzul: Latar Belakang Turunnya Ayat
Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munīr menuturkan bahwa ayat ini turun ketika Rasulullah SAW menyampaikan kepada kaum Quraisy peristiwa Isra’ yang beliau alami, namun mereka mendustakannya. Ayat ini diturunkan sebagai pembenar atas peristiwa tersebut.
Diriwayatkan bahwa setelah kembali dari Isra’ dan Mi’raj, Nabi SAW menyampaikan peristiwa itu kepada kaum Quraisy di Masjidil Haram. Mereka mengingkarinya karena menganggapnya mustahil. Sebagian orang yang sebelumnya beriman menjadi ragu, bahkan ada yang murtad. Ketika hal ini disampaikan kepada Abu Bakar RA, beliau berkata, “Jika Muhammad yang mengatakannya, maka dia telah berkata benar.” Karena sikap inilah Abu Bakar RA mendapat gelar Aṣ-Ṣiddīq.
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa kaum Quraisy kemudian meminta Nabi SAW menjelaskan ciri-ciri Baitul Maqdis. Allah SWT menampakkan Baitul Maqdis kepada beliau, lalu Nabi SAW menyebutkan ciri-cirinya satu per satu, dan mereka mengakui kebenarannya. Namun mereka kembali menantang Nabi SAW dengan meminta penjelasan tentang kafilah dagang mereka yang sedang dalam perjalanan dari Baitul Maqdis menuju Makkah.
Nabi SAW kemudian memberitahukan jumlah unta dalam kafilah tersebut, kondisi rombongan, serta waktu kedatangannya. Beliau menyampaikan bahwa kafilah itu akan tiba pada hari tertentu bersamaan dengan terbitnya matahari, dan di barisan terdepannya terdapat seekor unta aurāq (unta yang berwarna putih kehitam-hitaman). Orang-orang Quraisy lalu keluar menunggu di jalanan perbukitan. Ketika kafilah itu benar-benar datang sesuai dengan apa yang disampaikan Nabi SAW, mereka tetap mendustakannya dan berkata, “Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.”
Tafsir Ringkas (Ijmālī) – Tafsir Jalalain
Kata سُبْحَانَ (Subḥāna) bermakna penyucian Allah dari segala kekurangan. Frasa ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ menunjukkan bahwa Allah-lah yang memperjalankan hamba-Nya, yakni Nabi Muhammad SAW, لَيْلًا pada sebagian malam. Kata lailan disebutkan dalam bentuk nakirah untuk menunjukkan singkatnya waktu perjalanan tersebut.
Frasa مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا menunjukkan tempat awal dan tujuan Isra’, yaitu dari Masjidil Haram menuju Baitul Maqdis. Masjid tersebut dinamakan Al-Aqsa karena letaknya yang jauh dari Masjidil Haram. Frasa ٱلَّذِى بَارَكْنَا حَوْلَهُۥ menunjukkan keberkahan wilayah tersebut. Kalimat لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَاتِنَا bermakna agar Allah memperlihatkan kepada Nabi SAW sebagian tanda-tanda kekuasaan-Nya. Adapun إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ menunjukkan bahwa Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat segala sesuatu.
Pembahasan Kata dan Kalimat
Kata سُبْحَانَ
Asy-Syaukani dalam Fatḥul Qadīr menjelaskan bahwa Subḥāna adalah maṣdar dari kata sabbaḥa yang bermakna mensucikan Allah dari segala kekurangan. Al-Qurthubi menyebutkan bahwa kata ini digunakan sebagai isim yang berfungsi sebagai maṣdar dan tidak mengalami perubahan i‘rāb. Ia tidak menerima alif-lām dan tidak memiliki bentuk fi‘il yang digunakan dalam struktur kalimat biasa.
Ath-Thabari menukilkan penjelasan serupa dan menambahkan bahwa kata Subḥāna dibaca naṣab karena tidak disifati. Dalam sebagian riwayat, kata ini juga digunakan untuk menunjukkan makna cahaya, sebagaimana terdapat dalam hadis tentang subuḥāt wajhih.
Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa secara asal, kalimat Subḥāna mengandung makna kalimat fi‘il yang dihilangkan, yaitu usabbiḥullāha subḥānan. Quraish Shihab dalam Al-Miṣbāḥ menerangkan bahwa akar kata sabbaḥa bermakna menjauhkan, sehingga tasbih berarti menjauhkan Allah dari segala sifat kekurangan.
Kalimat أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa kata asrā dan sarā sama-sama bermakna berjalan di malam hari, namun asrā lebih umum digunakan untuk awal malam. Penyebutan kata lailan setelah kata asrā menunjukkan bahwa perjalanan tersebut hanya terjadi pada sebagian malam.
Frasa بِعَبْدِهِۦ menurut para mufasir menunjukkan kemuliaan Nabi Muhammad SAW, karena predikat ‘abd merupakan kedudukan tertinggi seorang hamba di sisi Allah. Wahbah Az-Zuhaili menegaskan bahwa kata ‘abd mencakup jasad dan ruh Nabi SAW.
Kalimat مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا
Ath-Thabari dan Asy-Syaukani menjelaskan bahwa Masjidil Haram mencakup seluruh kawasan tanah haram, sedangkan Masjidil Aqsa adalah Baitul Maqdis yang disebut al-aqsa karena jaraknya yang jauh. Quraish Shihab menukil pendapat Thahir Ibn ‘Asyur bahwa penyebutan masjid merujuk pada tempat sujud, baik berupa bangunan maupun arealnya.
Kalimat ٱلَّذِى بَارَكْنَا حَوْلَهُۥ
Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, dan Asy-Syaukani menafsirkan keberkahan ini berupa kesuburan tanah, banyaknya sungai, serta keberadaan para nabi dan orang-orang saleh. Ath-Thabari menjelaskan bahwa keberkahan tersebut mencakup aspek kehidupan dan mata pencaharian penduduknya.
Kalimat لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَاتِنَآ
Menurut Al-Qurthubi, peralihan gaya bahasa dari orang ketiga ke orang pertama dalam ayat ini merupakan salah satu aspek keindahan balaghah Al-Qur’an. Yang diperlihatkan kepada Nabi SAW adalah berbagai tanda kekuasaan Allah, baik di bumi maupun di langit, sebagaimana dijelaskan pula oleh Asy-Syaukani dan Ibnu Katsir.
Kalimat إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ
Asy-Syaukani menafsirkan bahwa Allah Maha Mendengar seluruh ucapan dan Maha Melihat seluruh perbuatan. Ath-Thabari menegaskan bahwa tidak ada satu pun perbuatan dan ucapan manusia yang luput dari pengetahuan Allah.
Nukilan Tafsir Mufasir Kontemporer (Global)
Wahbah Az-Zuhaili
Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munīr menyebutkan bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang terjadi dalam satu malam merupakan sarana untuk menyeleksi orang-orang yang benar-benar beriman dari mereka yang di dalam hatinya terdapat penyakit. Ia juga menegaskan bahwa diperlihatkannya tanda-tanda kekuasaan Allah di langit dan di bumi kepada Nabi Muhammad SAW merupakan bentuk pengajaran yang kuat, karena pengajaran melalui hal-hal yang dapat disaksikan langsung lebih membekas dalam jiwa.
Ia juga menukil riwayat tentang dikumpulkannya para nabi di Masjidil Aqsa dan Nabi Muhammad SAW mengimami mereka sebagai bukti kesatuan risalah para nabi dan rasul.
Sayyid Quthub
Sayyid Quthub dalam Fī Ẓilālil Qur’ān menyatakan bahwa Rasulullah SAW tidak menjadikan peristiwa Isra’ dan Mi’raj sebagai mukjizat untuk menundukkan kaum Quraisy, meskipun mereka menuntut hal-hal luar biasa. Peristiwa ini disampaikan oleh Nabi SAW sebagai pernyataan hakikat yang beliau yakini, bukan sebagai alat polemik dakwah.
Ia menegaskan bahwa dakwah Islam tidak bertumpu pada hal-hal supranatural semata, melainkan pada kesesuaian dengan fitrah manusia dan manhaj yang lurus.
Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy
Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy menjelaskan bahwa ayat ini hanya menyebutkan peristiwa Isra’ dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis, sedangkan peristiwa Mi’raj tidak disebutkan di dalamnya. Menurutnya, penjelasan tentang Mi’raj dijumpai dalam surah An-Najm.
Mahmud Yunus
Mahmud Yunus menerangkan bahwa ayat ini mewartakan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Baitul Maqdis. Adapun Mi’raj, yakni naiknya Nabi SAW ke langit, tidak disebutkan dalam ayat ini dan penjelasannya diperoleh melalui hadis-hadis Nabi.
HAMKA
HAMKA dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa peristiwa Isra’ merupakan kejadian luar biasa yang terjadi bukan karena kemampuan Nabi Muhammad SAW sendiri, melainkan sepenuhnya karena kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Peristiwa ini dipandang sebagai bagian dari mukjizat yang menguatkan akidah tauhid.
M. Quraish Shihab
M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Miṣbāḥ menyatakan bahwa ayat ini secara tegas menguraikan peristiwa Isra’ Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, namun tidak menjelaskan bagaimana bentuk terjadinya peristiwa tersebut, apakah dengan ruh dan jasad, ruh saja, atau melalui mimpi. Perbedaan pendapat para ulama mengenai hal ini dikemukakan berdasarkan dalil-dalil masing-masing.
Ia juga menegaskan bahwa ayat ini tidak membicarakan Mi’raj, dan bahwa pembahasan Mi’raj ditemukan dalam ayat-ayat lain, khususnya dalam surah An-Najm.
Rangkuman Pembahasan
Berdasarkan kurasi dari berbagai sumber tafsir di atas, terdapat beberapa poin utama yang menjadi fokus pembahasan mufasir dalam QS Al-Isra’ Ayat 1:
- Etimologi Kalimat: Pembahasan mengenai kata Subḥāna sebagai bentuk penyucian Allah dari segala kekurangan. Selain itu, terdapat penjelasan teknis mengenai kata asrā dan lailan yang menunjukkan waktu perjalanan di sebagian malam.
- Predikat Hamba: Penggunaan istilah ‘abd yang menunjukkan kedudukan tertinggi Nabi Muhammad SAW di sisi Allah. Para mufasir juga menegaskan bahwa istilah ini mencakup jasad sekaligus ruh beliau.
- Lokasi Geografis: Penjelasan mengenai Masjidil Haram sebagai titik awal dan Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis) sebagai tujuan perjalanan. Ayat ini juga menyoroti keberkahan wilayah sekeliling lokasi tersebut.
- Tujuan Perjalanan: Penegasan bahwa peristiwa Isra' adalah sarana bagi Allah untuk memperlihatkan sebagian tanda-tanda kebesaran-Nya secara langsung kepada Nabi SAW.
- Respon dan Dampak Sejarah: Catatan mengenai reaksi kaum Quraisy yang mendustakan peristiwa ini, keteguhan iman Abu Bakar hingga mendapat gelar Aṣ-Ṣiddīq, serta pembuktian kebenaran melalui deskripsi fisik Baitul Maqdis.
- Ruang Lingkup Peristiwa: Adanya perbedaan sudut pandang mufasir mengenai apakah ayat ini mencakup peristiwa Mi’raj dan perincian metode terjadinya peristiwa tersebut.
Referensi
- Tafsir Ath-Thabari, Jilid 16.
- Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 10.
- Tafsir Jalalain – Jalaluddin Al-Mahalli & Jalaluddin As-Suyuthi, Jilid 1.
- Tafsir Fatḥul Qadīr – Asy-Syaukani, Jilid 6.
- Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 5.
- Tafsir Al-Qur’an Al-Karim – Mahmud Yunus.
- Tafsir An-Nūr – Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Jilid 3.
- Tafsir Fī Ẓilālil Qur’ān – Sayyid Quthub, Jilid 7.
- Tafsir Al-Azhar – HAMKA, Jilid 6.
- Tafsir Al-Munīr – Wahbah Az-Zuhaili, Jilid 8.
- Tafsir Al-Miṣbāḥ – M. Quraish Shihab, Jilid 7.