Tegas di Mimbar, Bungkam di Kantor
Pengantar
Amar makruf nahi munkar itu tema lama. Semua orang yang pernah ikut pengajian sudah akrab dengan dalilnya. Hadisnya sering dikutip. Tetapi semakin sering dibicarakan, justru semakin jarang terlihat ketika kemungkaran terjadi di lingkungan sendiri.
Di mimbar, suara bisa lantang. Di forum umum, nasihat bisa panjang. Tetapi di kantor? Di hadapan atasan? Di dalam struktur sendiri? Mendadak banyak pertimbangan. Tulisan ini bukan ceramah. Ini cermin. Silakan bercermin, atau memilih tidak melihat.
Amar Makruf Nahi Munkar Itu Tuntutan, Bukan Hiasan
Allah berfirman:
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
Terjemah:
"Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah." (QS. Ali 'Imran: 110)
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
Terjemah:
"Barangsiapa melihat kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu maka dengan lisannya. Jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu selemah-lemahnya iman." (HR. Muslim no. 49)
Tidak ada klausul: kecuali pelakunya atasan, kecuali berisiko karier, kecuali bikin suasana tidak enak. Semakin punya posisi, semakin berat hisabnya.
Adab: Mulia, Tapi Sering Dipakai Jadi Perisai
Al-Qur'an menyuruh hikmah (QS. An-Nahl: 125). Hikmah itu cara terbaik, bukan alasan berhenti total. Hari ini adab sering berubah fungsi: bukan lagi penuntun akhlak, melainkan tameng antikritik. Teguran sedikit dibilang kasar. Nasihat dianggap menyerang. Kritik dinilai tidak santun.
Allah berfirman:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ
Terjemah:
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang lebih baik." (QS. An-Nahl: 125)
Ibn Qayyim menegaskan nahi munkar tidak boleh menimbulkan kerusakan lebih besar (Ibn Qayyim al-Jawziyyah, I'lam al-Muwaqqi'in). Tetapi mafsadah besar dalam syariat itu konflik berdarah, kekacauan sosial, dan kerusakan luas. Bukan sekadar atasan tersinggung, hubungan jadi canggung, atau suasana jadi tidak nyaman. Kalau standar mafsadah cuma perasaan, semua nasihat bisa dimatikan.
Diamnya Pemimpin Itu Sebuah Tanda
Al-Qur'an menyebut kaum yang dilaknat karena membiarkan kemungkaran:
لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوْا وَكَانُوا يَعْتَدُونَ كَانُوا لَا يَتَنَاهَوْنَ عَنْ مُنْكَرٍ فَعَلُوهُ ۚ لَبِئْسَ مَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Terjemah:
"Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas. Mereka tidak saling melarang perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Sungguh buruk apa yang mereka perbuat." (QS. Al-Ma'idah: 78-79)
Laknat tidak hanya ke pelaku, tetapi ke yang membiarkan. Pemimpin yang tahu ada pelanggaran nyata lalu diam sedang mengirim pesan sosial: "Ini masih aman dilakukan." Lama-lama yang salah jadi biasa. Yang biasa jadi sistem.
Penyuluh dan Standar Ganda
Ada penyuluh keras ke masyarakat kecil, tapi lunak ke struktur. Berani menegur warga, tapi ragu menasihati rekan sendiri. Allah sudah mengingatkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Terjemah:
"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 2-3)
Ayat ini bukan untuk orang awam. Ini teguran untuk orang yang tahu tetapi tidak konsisten.
Dalih "Sudah Dari Dulu": Alasan Paling Busuk Menolak Koreksi
Ini dalih yang sering muncul: "Sudah begitu dari dulu." Kalimat ini kelihatannya tenang, padahal isinya pembenaran. Artinya sederhana: yang lama tidak usah dikoreksi. Logika seperti ini sudah dibongkar Al-Qur'an:
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Terjemah:
"Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,' mereka menjawab, 'Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.' Padahal nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 170)
Kalau "sudah lama" jadi ukuran benar, maka jahiliyah tidak perlu diubah.
Kebiasaan Lama Tidak Pernah Mengubah Hukum Allah
Salah tetap salah meski sudah lama terjadi, dilakukan banyak orang, atau diwariskan turun-temurun. Riba tidak jadi halal karena sistem lama. Ghibah tidak jadi boleh karena budaya kantor. Penyimpangan tidak jadi wajar karena tradisi. Usia praktik tidak pernah mengubah hukum Allah.
Soal ABS dan Rasa Takut
Budaya "Asal Bapak Senang" semua orang kenal. Sedikit yang mau jujur mengakui. Orang jadi tahu tapi diam, lihat tapi pura-pura tidak lihat, paham tapi memilih aman. Lalu dibungkus kata: "demi kondusivitas." Padahal seringnya demi posisi.
Allah memperingatkan tentang menyembunyikan kebenaran:
إِنَّ الَّذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَىٰ مِنْ بَعْدِ مَا بَيَّنَّاهُ لِلنَّاسِ فِي الْكِتَابِ ۙ أُولَٰئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللَّهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللَّاعِنُونَ
Terjemah:
"Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan keterangan-keterangan dan petunjuk yang telah Kami turunkan setelah Kami jelaskan kepada manusia dalam Kitab, mereka itu dilaknat Allah dan dilaknat oleh semua (makhluk) yang melaknat." (QS. Al-Baqarah: 159)
Diamnya orang berilmu bukan netral. Itu pengkhianatan terhadap ilmu yang dia bawa.
Regulasi Bahkan Bicara Integritas
Aturan negara pun bicara integritas (Keputusan Menteri Agama RI No. 79 Tahun 1985; UU RI No. 5 Tahun 2014 tentang ASN). Negara menuntut aparatur dan penyuluh tampil lurus, jujur, dan konsisten, bukan hanya di dokumen, tetapi di lapangan. Integritas bukan cuma soal uang. Ia soal keteguhan nilai, soal keberanian menolak salah meski berisiko, soal tetap tegak ketika tekanan datang dari atas. Kalau dakwah hanya berani ke rakyat kecil, tapi mendadak hati-hati ketika menyentuh orang berkuasa, itu bukan hikmah — itu selektif dan pengecut.
Akar Masalahnya Sederhana
Bukan kurang ilmu. Bukan kurang dalil. Seringnya cuma satu: takut. Takut tidak disukai. Takut dimutasi. Takut kehilangan kenyamanan. Takut kehilangan akses dan posisi. Takut label “pembangkang” menempel lebih lama daripada kebenaran yang disampaikan. Inilah akar busuk yang sering dibungkus narasi “kebijaksanaan”. Padahal tidak ada jabatan yang dibawa ke kubur, dan tidak ada pembenaran di hadapan hisab untuk keberanian yang sengaja dikubur.
Penutup
Kemungkaran jarang menang karena pelakunya kuat. Ia menang karena orang baik memilih diam. Diam itu terlihat netral, padahal ia keputusan sadar untuk tidak menegakkan kebenaran. Sekali diam, kesalahan menjadi kebiasaan. Berkali-kali diam, kebiasaan berubah jadi budaya. Dari situlah kemungkaran menemukan napas panjang.
Jabatan bisa dijaga. Citra bisa dirawat. Karier bisa diamankan. Tapi amanah? Itu urusan lain. Amanah tidak menilai seberapa rapi kita menjaga posisi, melainkan seberapa berani kita menjaga kebenaran. Jika keberanian dijual demi kenyamanan, jangan heran kalau kemungkaran tumbuh subur.
Tulisan ini tidak meminta restu. Diam tetap pilihan, dan setiap pilihan ada hisabnya. Menunda keberanian hari ini adalah bentuk halus mengkhianati amanah. Punchline-nya sederhana: kalau kamu terus diam, maka kamu sedang memilih berdiri di barisan yang salah.