Lewati ke konten utama
๐Ÿ“… Sabtu, 11 April 2026ย ย โ€”ย ย ๐Ÿ•’ 21.18 WIBย ย โ€”ย ย ๐Ÿ—“ Sabtu, 23 Syawal 1447 Hย ย โ€”ย ย ๐Ÿ•‹ Jadwal Shalat Kab/Kota:ย Pilih kabupaten/kota untuk melihat jadwal shalat.ย ย โ€”ย ย 

Etika Musyawarah dalam Khilafiyah menurut Tradisi Ulama

Kurator: Harris Muda, S.Ag

Pengantarโ€‹

Perbedaan pendapat dalam agama bukanlah sesuatu yang asing dalam tradisi Islam. Namun, berkaca pada akar sejarah perdebatan, tidak setiap perbedaan layak dibawa ke ruang diskusi terbuka.

Imam al-Ghazali dalam kitab Ihyaโ€™ โ€˜Ulumuddin mencoba memotret kembali bagaimana para ulama terdahulu melakukan musyawarah. Beliau merangkum etika-etika tersebut menjadi syarat-syarat yang harus dipenuhi agar sebuah diskusi tetap berorientasi pada kebenaran, bukan sekadar adu argumen yang melemahkan umat.


Menghidupkan Kembali Adab Musyawarah Ulamaโ€‹

Dalam pandangan al-Ghazali, perdebatan khilafiyah yang terjadi di zamannya sering kali sudah melenceng dari tujuan asal. Oleh karena itu, beliau mengingatkan kembali 8 syarat yang menjadi standar para ulama dalam melakukan musyawarah:

1. Memposisikan Diskusi sebagai Fardhu Kifayahโ€‹

Para ulama melihat diskusi sebagai kewajiban kolektif untuk mencari solusi. Seseorang tidak dibenarkan terlibat dalam perdebatan publik jika kewajiban pribadinya (fardhu 'ain) masih terabaikan.

2. Tidak Mengabaikan Masalah yang Lebih Mendesakโ€‹

Diskusi mengenai perkara cabang (furu') tidak boleh menyita waktu dari penyelesaian masalah umat yang lebih darurat.

Dalam konteks melemahnya tanggung jawab sosial ini, Imam al-Ghazali menukil riwayat dari sahabat Anas bin Malik RA bahwa seseorang pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kapan seorang Muslim boleh meninggalkan kewajiban amar maโ€˜ruf nahi munkar. Rasulullah SAW menjawab:

ุฅูุฐูŽุง ุธูŽู‡ูŽุฑูŽุชู ุงู„ู’ู…ูุฏูŽุงู‡ูŽู†ูŽุฉู ูููŠ ุฎููŠูŽุงุฑููƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ููŽุงุญูุดูŽุฉู ูููŠ ุดูุฑูŽุงุฑููƒูู…ู’ ูˆูŽุชูŽุญูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒู ูููŠ ุตูุบูŽุงุฑููƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ููู‚ู’ู‡ู ูููŠ ุฃูŽุฑูŽุงุฐูู„ููƒูู…ู’

Terjemah: "Yaitu, pada saat sifat menjilat atasan telah tumbuh subur pada diri orang-orang yang baik di antara kalian. Juga pada saat kekuasaan beralih kepada orang-orang yang derajatnya rendah di antara kalian. Dan ketika ilmu fikih berpindah kepada orang-orang yang hina di antara kalian."

Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Catatan Editorial

Sebagai kurator, penulis tidak bermaksud mempertanyakan kualitas Imam al-Ghazali dalam menukil hadis. Namun, terdapat perbedaan redaksi antara teks matan yang dirujuk beliau di atas dengan naskah yang penulis temukan dalam sumber primernya. Di bawah ini adalah matan yang penulis temukan sebagai perbandingan:

Dalam Sunan Ibnu Majah nomor 4015, hadis tersebut diriwayatkan dengan redaksi berikut:

ุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽู†ูŽุง ุงู„ู’ุนูŽุจูŽู‘ุงุณู ุจู’ู†ู ุงู„ู’ูˆูŽู„ููŠุฏู ุงู„ุฏูู‘ู…ูŽุดู’ู‚ููŠูู‘ุŒ ุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽู†ูŽุง ุฒูŽูŠู’ุฏู ุจู’ู†ู ูŠูŽุญู’ูŠูŽู‰ ุจู’ู†ู ุนูุจูŽูŠู’ุฏู ุงู„ู’ุฎูุฒูŽุงุนููŠูู‘ุŒ ุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽู†ูŽุง ุงู„ู’ู‡ูŽูŠู’ุซูŽู…ู ุจู’ู†ู ุญูู…ูŽูŠู’ุฏูุŒ ุญูŽุฏูŽู‘ุซูŽู†ูŽุง ุฃูŽุจููˆ ู…ูุนูŽูŠู’ุฏูุŒ ุญูŽูู’ุตู ุจู’ู†ู ุบูŽูŠู’ู„ุงูŽู†ูŽ ุงู„ุฑูู‘ุนูŽูŠู’ู†ููŠูู‘ ุนูŽู†ู’ ู…ูŽูƒู’ุญููˆู„ูุŒ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽู†ูŽุณู ุจู’ู†ู ู…ูŽุงู„ููƒูุŒ ู‚ูŽุงู„ูŽ ู‚ููŠู„ูŽ ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู…ูŽุชูŽู‰ ู†ูŽุชู’ุฑููƒู ุงู„ุฃูŽู…ู’ุฑูŽ ุจูุงู„ู’ู…ูŽุนู’ุฑููˆูู ูˆูŽุงู„ู†ูŽู‘ู‡ู’ู‰ูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ู’ู…ูู†ู’ูƒูŽุฑู ู‚ูŽุงู„ูŽ โ€"โ€ ุฅูุฐูŽุง ุธูŽู‡ูŽุฑูŽ ูููŠูƒูู…ู’ ู…ูŽุง ุธูŽู‡ูŽุฑูŽ ูููŠ ุงู„ุฃูู…ูŽู…ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽูƒูู…ู’ โ€"โ€ โ€.โ€ ู‚ูู„ู’ู†ูŽุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู…ูŽุง ุธูŽู‡ูŽุฑูŽ ูููŠ ุงู„ุฃูู…ูŽู…ู ู‚ูŽุจู’ู„ูŽู†ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ โ€"โ€ ุงู„ู’ู…ูู„ู’ูƒู ูููŠ ุตูุบูŽุงุฑููƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ููŽุงุญูุดูŽุฉู ูููŠ ูƒูุจูŽุงุฑููƒูู…ู’ ูˆูŽุงู„ู’ุนูู„ู’ู…ู ูููŠ ุฃูŽุฑูŽุงุฐูู„ููƒูู…ู’ โ€"โ€ โ€

Terjemah: Dikatakan kepada Rasulullah SAW, โ€œWahai Rasulullah, kapan kami meninggalkan perintah berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran?โ€ Beliau menjawab, โ€œApabila pada kalian telah tampak apa yang tampak pada umat-umat sebelum kalian.โ€ Kami bertanya, โ€œApa yang tampak pada umat-umat sebelum kami?โ€ Beliau menjawab, โ€œKekuasaan berada di tangan orang-orang kecil di antara kalian, perbuatan keji dilakukan oleh orang-orang besar di antara kalian, dan ilmu berada pada orang-orang yang hina di antara kalian.โ€


3. Bersandar pada Kompetensi Ijtihadโ€‹

Tradisi musyawarah yang sehat hanya terjadi di antara mereka yang memiliki kapasitas ilmu mumpuni. Bagi yang belum mencapai derajat ijtihad, hendaknya merujuk pada ketetapan imam yang diakui.

4. Membahas Persoalan Aktualโ€‹

Kajian para ulama terdahulu selalu berorientasi pada kejadian nyata (waqi'iyyah) yang menuntut kejelasan hukum.

5. Mengutamakan Ruang yang Tepatโ€‹

Musyawarah untuk mencari kebenaran lebih efektif dilakukan di ruang terbatas di antara para ahli guna menghindari kegaduhan di kalangan masyarakat awam.

6. Mencari Kebenaran, Bukan Kemenanganโ€‹

Imam al-Ghazali mencontohkan sikap Sayyidina โ€˜Umar bin Khaththab RA dan Sayyidina โ€˜Ali RA yang bersyukur ketika pendapat pihak lain terbukti lebih benar.

7. Memberikan Ruang Argumentasi bagi Lawan Bicaraโ€‹

Adab menuntut agar setiap pihak diberikan kesempatan yang sama untuk memaparkan penjelasannya secara utuh.

8. Kehadiran Penengah yang Adilโ€‹

Proses musyawarah memerlukan kehadiran pihak ketiga yang berilmu dan objektif agar diskusi tetap fokus pada kemaslahatan.


Penutupโ€‹

Syarat-syarat yang dirangkum oleh Imam al-Ghazali ini merupakan cermin dari kedewasaan berpikir generasi awal Islam. Dengan memahami batasan ini, kita diajak untuk melihat khilafiyah bukan sebagai medan konflik, melainkan sebagai ujian adab dan intelektualitas.

Referensi:

  1. Imam al-Ghazali, Ihya' 'Ulumuddin, Jilid 1.
  2. Sunan Ibnu Majah, hadis nomor 4015.
Bagikan artikel ini: